Senin, 28 Desember 2009

Menjadi Guru yang Ideal

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Salah satu jendela melihat dunia bagi anak-anak selain peran orang tua, fasilitas modern seperti televisi, internet dan lainnya adalah guru. Tugas seorang pegawai jasa (guru) adalah mengarahkan anak didiknya ke arah kedewasaan melalui beberapa proses development of good values. Banyak beberapa tips agar seorang guru dapat memberikan main process dengan baik dalam menfasilitasi anak didiknya.

Dalam hal ini, guru bagaikan seorang ahli mekanika yang bekerja di dalam bengkel kendaraan. Setiap harinya diberi amanat untuk menstabilkan masa depan anak didik, sehingga rasa tanggung jawab guru yang dibantu dengan tanggung jawab pengelola sekolah harus bisa melayani pelanggan dengan baik, yakni dalam rangka menjalankan amanat sebagai educator, leader, facilitator, motivator, administrator dan evaluator.

Begitulah fungsi dan tugas seorang guru sebagaimana yang ditulis oleh Jamal Ma’mur Asmani. Tentu masih banyak fungsi dan tugas selain yang disebutkan Asmani, tetapi minimal fungsi-fungsi itu haruslah ada pada seorang guru selain syarat-syarat administratif untuk menjadi seorang guru.

Ada istilah profesionalitas seorang guru, namun istilah tersebut hanya berlaku pada penikmat (siswa). Ketika yang menikmati tidak nyaman dengan guru tersebut, dikatakan bahwa “beliau bukan guru yang professional”, dan pada penikmat (siswa) lain juga ada yang bilang “guru tersebut sangat professional dalam mengajar”. Dengan demikian, berdasarkan kaca mata publik ukuran profesionalitas guru ada pada kriteria guru seorang.

Termuat dalam Asmani penulis buku 'Tips Menjadi Guru Inspiratif, Kreatif, dan Inovatif' menyimpulkan kriteria guru berdasarkan pendapat beberapa pakar pendidikan, seperti Prof. Herawati Susilo M.Sc, Ph.D dari Universitas Negeri Malang, Husnul Chotimah (2008), dan Wijaya Kusumah (2009). Pertama, guru ideal adalah guru yang memahmi profesinya sangat mulia, sehingga ketulusan dalam mendidik anak didiknya dengan wajah selalu ceria, senang, dan selalu menerapkan salam, sapa, sopan, senyum dan sabar.

Dari kriteria pertama tersebut peserta didik pun akan selalu nyaman dalam belajar, tidak seperti beberapa guru yang sering diceritakan oleh para siswa, yakni seperti guru matematika yang umumnya terkenal keras, tidak mudah senyum, mudah menghukum, dan membosankan.

Kedua, guru yang ideal adalah guru yang rajin membaca dan menulis. Selaras dengan fungsi guru yakni sebagai fasilitator peserta didiknya. Jadi, guru harus dituntut untuk memiliki wawasan yang luas, ibaratnya mesin pencari “Google” di internet. Membaca dan menulis pada seorang guru juga diibaratkan dua sisi mata uang logam yang tidak dapat dipisahkan.

Ketiga, guru yang ideal adalah guru yang sangat menghargai waktu “time is money”.

Keempat, guru yang ideal adalah guru yang kreatif dan inovatif. Menciptakan suasana belajar yang variatif menunjukkan guru tersebut kreatif, tidak monoton dari hari ke hari, hingga tahun ke tahun mengajarnya itu-itu saja. Tidak beda jauh dengan copy and paste, gaya belajarnya selalu sama dari selamanya. Guru yang tidak kreatif tentu ditandakan guru tersebut kurang membaca dan menulis, guru yang malas-malasan, tidak pernah menghargai waktu dengan baik. Hingga mengisi laporan penilaian hasil belajar siswa dikerjakan dengan SKS (Sistem Kebut Semalam) yang ala kadarnya, tidak memperhitungkan aspek proses dalam belajar peserta didik.

Terakhir, guru yang ideal adalah guru yang memiliki lima kecerdasan, yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan moral, kecerdasan sosial, kecerdasan emosional, dan kecerdasan motorik. Kelima kecerdasan tersebut harus seimbang, kesemuaanya saling terkait dalam dunia pendidikan. Baca realita kita, berapa banyak orang berintelektual tinggi yang masuk penjara karena korupsi? Bukti bahwa lima kecerdasannya tidak seimbang.

Kita sebagai guru atas diri kita sendiri, sudah seharusnya juga menerapkan kriteria guru sebagaimana yang di atas. Apalagi, kita yang nantinya sebagai seorang orang tua harus mampu menjadi guru dari anak kita. Jadilah guru yang ideal penuh dengan kejujuran.

Sumber : Bayu Tara Wijaya (www.kabarindonesia.com)

0 komentar:

Posting Komentar