Jumat, 22 Januari 2010

Enaknya Jadi Guru


Ketika sedang ada diskon 30% all item di Gramedia TP, sayapun tak mau ketinggalan untuk ikut meramaikan event tersebut. Mumpung ada buku desain graphic Corel Draw dan Photoshop yang saya inginkan sejak lama, berhubung harganya yang terlalu mahal sehingga untuk membelinya harus pikir-pikir dulu dan akhirnya ada juga kesempatan untuk memilikinya. Lumayan dalam kesempatan tersebut saya mendapatkan dua buah buku.

Setelah berhasil mendapatkannya, sambil ikut berdesak-desakan, satu persatu saya memperhatikan rak-rak pajangan yang berjejer. Tak sengaja pandangan saya tertumbuk pada sebuah buku yang terpajang di rak bagian Pendidikan. Melihat judulnya saja membuat minat saya tergugah untuk membacanya. Buku yang menarik perhatian saya tersebut berjudul "Inspiring Education" yang berisi Kumpulan Kisah Nyata Pembelajaran Anak SD serta Teori dan Tips Solusi untuk guru dan orang tua (Wah sepertinya menarik sekali). Karena tidak ingin seperti membeli kucing dalam karung saya mencoba untuk membuka segel buku tersebut karena saya takut kecewa isi di dalamnya kurang bagus. Namun selintas pintas membaca isi yang terkandung di dalamnya semakin membuat hati ingin terus membacanya. Muncullah bisikan dalam hati untuk membelinya meskipun waktu berangkat saya niatkan hanya membeli buku yang menjadi incaran saya.

Karena dorongan hati inilah sayapun lantas mengeluarkan anggaran tambahan untuk membeli satu buku lagi. Plong rasanya hati ini setelah mendapatkan buku tersebut. Meskipun saya agak-agak takut untuk mengintip kocek yang ada di dalam dompet dan berapa yang tersisa dari kocek tersebut.

Sesampainya di rumah buku tersebut langsung saya lahap, dan dua buku desain graphic yang ingin saya pelajari langsung tersingkir (ditunda dulu membacanya). Dari berbagai kisah yang dihadirkan di dalam buku tersebut, kisah-kisahnya memang mampu memberikan inspirasi bagi kita sebagai orang tua maupun pendidik, terutama dengan adanya gambaran dari pengalaman penulis ketika memperhatikan dunia pendidikan disekitarnya agar kita pun turut serta memikirkan kemajuan pendidikan di tanah air kita.

Agar pengunjung setia Gallery Pendidikan tidak penasaran, dan terutama sebagai bahan perenungan para pendidik, berikut ini akan saya hadirkan cuplikan dari kisah yang terdapat dalam buku tersebut dengan judul "Enaknya Jadi Guru"

Enaknya Jadi Guru

Seorang ayah sangat khawatir dengan anaknya yang tidak pernah mengutarakan cita-citanya. Saat ini, anaknya yang bernama Badi itu kelas 5 SD. Sudah berkali-kali sang ayah bertanya.

"Badi, kalau besar, kamu mau jadi apa?"

Badi hanya menggelengkan kepala. Namun, pernah juga dia merespon sesekali, "Nggak tahu, deh." Atau dengan kalimat yang semakna, "Terserah saja" dan sebagainya.

Ayah Badi sangat khawatir jika ada kelainan pada diri anaknya. Berdasarkan pengalaman beliau dengan para kakak Badi, pada usia itu mereka sudah pernah menyebut, paling tidak satu cita-cita. Contohnya Badu, yang sejak TK ingin jadi astronot. Atau Budi, waktu kelas 3 SD bercita-cita menjadi dokter, dan Sri yang saat kelas 2 SD bersemangat ingin menjadi penjahit ternama.

Sang ayah sebenarnya tak pernah memaksa anak-anaknya untuk memilih pofesi tertentu. "Yang penting baik dan halal," kata beliau menjelaskan. tapi sikap Badi memang unik, sekaligus membuat ayahnya bingung.

Jadi bagaimana Bu Psikolog, cara saya bertanya pada anak saya tentang cita-citanya? Apakah memang anak saya tipe yang tidak suka ditanya? Atau mungkin dia bosan dengan pertanyaan saya?"

Psikolog pun menyarankan sang ayah untuk mencari strategi lain yang menghindarkan kesan bagi Badi bahwa dia merasa dites dan digurui.

"Bagaimana jika sesekali dalam situasi santai, Bapak dan Ibu bercerita tentang pengalaman keluarga meraih cita-cita? Kita tidak usah bertanya pada anak-anak, mereka mau jadi apa jika besar nanti. Jadi untuk tahap ini, sekadar sharing. Semoga ini bisa menjadi pancingan awal. Dalam kesempatan lain, baru kita bisa mulai bertanya pendapat anak-anak tentang cita-cita tertentu."

Orangtua Badi mengangguk setuju. Dari wajahnya sang ibu mau mencoba cara ini. "Perlahan tapi pasti ya Bu?" katanya seolah mengingatkan diri sendiri.

Beberapa minggu kemudian, orang tua Badi kembali berkunjung ke biro psikologi. Masih tampak rasa kekhawatiran pada wajah mereka. Bahkan kali ini, ada gurat kekecewaan yang cukup mendalam.

"Bu Psikolog, kami mau curhat lagi,"ayah Badi memulai pembicaraan. "Beberapa hari lalu, anak kami Badi spontan mengemukakan cita-citanya. kami ikuti saran Ibu untuk bercerita santai dulu beberapa kali. Ibu benar, tanpa ditanya, akhirnya Badi mau terlibat dalam pembicaraan bersama akak-kakaknya. Dia bilang ingin menjadi guru.

Psikolog mengucapkan pujian. "Cita-cita sebagai guru itu kan mulia. Tapi kenapa Bapak dan Ibu tampak kecewa?" tanyanya penasaran.

"Awalnya kami juga sangat gembira Bu, bahkan suami saya sempat terharu hingga menitikkan air mata," kata Ibu Badi.

"Sayangnya tak lama kemudian, Badi memberi tahu kami alasannya mau jadi guru. Dia bilang "Ayah, aku kalau sudah besar mau jadi guru aja"

"Wah, ayah sangat bangga sama kamu Nak, begitu dong. Guru adalah pekerjaan yang mulia, "kata suami saya. Badi mengangguk setuju dan menambah komentarnya, "iya jadi guru enak. Nggak usah pintar juga nggak apa-apa."
"Suami saya kaget dengan penuturan anak kami. Beliau bertanya, "Kata siapa jadi guru tak usah pintar ? Justru guru itu harus pintar karena harus mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya, Nak!"

"Tapi anak saya tidak mau kalah. 'Ah, guruku nggak pintar kok, Yah. Kalau rajin masuk memang iya. Tiap hari menyuruh temanku yang menjadi sekretaris kelas supaya menulis di papan tulis, dan yang lain mencatat. Setelah itu, mengerjakan tugas. Terus, kalau sudah selesai dapat tanda tangan deh dari guru. Enak banget jadi guru. Kerjanya santai, terus gajinya kan sekarang gede.' Nah, begitu Bu, kata anak saya dengan penuh kekaguman. Waktu itu, ayahnya sampai tak bisa berkata-kata. Beliau tak menyangka alasan Badi menjadi guru ternyata karena melihat sisi negatifnya. Saya pun khawatir apakah guru itu begitu 'spesial' sehingga menjadi 'inspirasi' bagi anka bungsu kami." Ibu Badi tampak prihatin.

"Saya tak tahu, Bu Psikolog. Apakah harus kecewa sama guru anak saya atau kecewa dengan anak saya. Saya tak menyangka, sekian lama saya tunggu apa sebenarnya cita-citanya, ternyata ingin menjadi guru yang tidak profesional, "kata ayah badi berapi-api. "Yang lebih menyedihkan lagi, ternyata sekian tahun anak saya bersekolah di sana, dia mendapatkan guru yang model mengajarnya kurang sesuai dengan harapan kita. Sayangnya sudah telanjur, Bu. Jadi apa yang bisa saya lakukan supaya pemahaman anak saya tentang guru tidak seperti itu ?"

Sesaat psikolog menatap kedua orangtua itu dengan keyakinan yang tidak utuh. "Ada banyak hal yang harus kita kondisikan, Pak. Perlu usaha keras bagi kita untuk meyakinkan Badi bahwa tidak semua guru memiliki kebiasaan menyuruh para siswanya banyak mencatat. Kita pun perlu me,beri contoh konkret bagi Badi sehingga bisa mengubah image-nya tentang seorang guru. Tantangannya adalah bukan hanya Badi yang perlu dijelaskan, tapi apa yang bisa kita lakukan agar para guru itu mendapatkan semacam pencerahan."

Sang psikolog terdiam. Sesat beliau mengingat kata-kata John Gardner yang mengatakan : We teach who we are. Jelas-jelas cara guru mengajarkan para siswanya secara monoton seeprti itu merupakan refleksi kemampuannya yang terbatas.

Sumber : Inspiring Education by Lara Fridani & APE Lestari, Penerbit Elex Media Komputindo

0 komentar:

Posting Komentar