Tampilkan postingan dengan label Children. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Children. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2012

Pengaruh Acara TV Pada Anak


Rata-rata anak di Indonesia menonton televisi selama 4,5 jam setiap hari padahal waktu belajarnya hanya rata-rata 4 jam. Bagi anak TK, televisi adalah teman bermain, sebab setiap hari dia mulai mencari-cari film kartun sampai tidak mengenal waktu.

Oleh karena itu, anak sebaiknya didampingi selama menyaksikan siaran televisi. Dari menonton televisi itu, anak-anak akan meniru kata-kata dan perilaku keseharian. Karena itu perlu adanya solusi seperti berikut :

  • Mengontrol anak pada waktu menonton acara televisi, sebab untuk melarang anak-anak menonton, sangat tidak mungkin dilakukan sebab anak juga perlu hiburan, asalkan tahu waktu.
  • Membatasi menonton televisi bagi anak-anak yang idealnya hanya 2 jam sehari.
  • Mengalihkan perhatian dari televisi. Ajaklah anak untuk bermain atau berkreasi di rumah, mewarnai gambar yang menarik, melukis, bermain bola. Sebagai orang tua kita harus kreatif mengatasi hal ini karena menonton televisi adalah salah satu dari kegiatan anak.
  • Membuat jadwal dan perhitungan rata-rata menonton setiap hari selama satu Minggu serta jam-jam tertentu.
  • Dengan memperdengarkan cerita dan dongeng sambil membaringkan badan atau duduk di kursi. Ajaklah anak melayangkan imajinasi untuk membayangkan isi cerita sambil mengistirahatkan fisiknya, bermain tebak-tebakan, dan sebagainya.

Dengan cara ini, akan terbentuk citra dalam diri anak bahwa saat-saat yang begini sangatlah menyenangkan.
Menonton memang sudah menjadi semacam budaya bangsa kita. Kehadiran Pesawat televisi yang menjamah rumah-rumah dengan biaya murah dan acara yang serba wah sangatlah menggoda. Berapa banyak keluarga yang dipengaruhi perilaku dan kebiasaannya oleh TV. Baik oleh tayangan berbau kekerasan maupun pengaruh iklan. Iklan ditengarai menjadi salah satu pemicu masyarakat konsumtif.

Apabila ekses negatif seperti itu tidak diwaspadai, maka pengaruh TV yang merasuk anak lebih banyak negatif ketimbang positifnya. Orang tua harus mengarahkan dan membatasi anak menonton TV. Mari ajak anak untuk lebih mencintai membaca buku. Karena kegiatan ini justru lebih memintarkan mereka dan menambah wawasan si anak.

Rabu, 21 Desember 2011

Mendongeng Untuk Anak

Mungkin sebagian besar dari kita tidak tahu bahwa betapa besar manfaat mendongeng untuk anak. Dan mungkin sekali kegiatan ini jarang dilakukan bahkan sama sekali tidak pernah dilakukan kepada si buah hati. Tentu saja kita mugkin mempunyai berbagai macam alasan untuk tidak mendongeng di hadapan si anak seperti pekerjaan yang menyita waktu, anggapan bahwa mendongeng adalah sebuah kegiatan yang sia-sia dan berbagai macam alasan lainnya.

mendongeng bagi anak seharusnya menjadi salah satu pekerjaan yang menyenangkan bagi setiap orang tua. Karena dengan aktifitas mendongeng ini secara tidak langsung kita akan memiliki ikatan yang lebih kuat antara orang tua dan anak. Anak akan merasa dimanjakan dan disayangi sehingga timbul timbal balik berupa rasa kasih dan sayang yang dalam kepada kedua orangtuanya. Di sini, orangtua juga dapat memperhatikan perkembangan dan kekurangan si anak.

Lepas dari semua itu, mendongeng bagi anak juga ternyata memiliki manfaat yang sangat bagus bagi anak. Itulah mengapa hendaknya orangtua dapat menghapus rasa enggan mereka untuk mendongengkan cerita kepada anak mereka. Berikut beberapa contoh manfaat yang dapat dipetik dari aktivitas mendongeng bagi anak.

Dapat Memberikan Teladan

Salah satu manfaat yang dapat diambil melalui aktivitas mendongeng bagi anak adalah, orangtua dapat memberikan teladan yang baik bagi anak mereka. Orangtua dapat memberikan contoh sikap-sikap atau perbuatan-perbuatan terpuji yang harus dikembangkan dan sikap-sikap atau perbuatan-perbuatan buruk yang tidak boleh dilakukan oleh si anak.

Memotivasi Anak

Biasanya, seorang anak ketika mendengarkan sebuah cerita atau dongeng ia kemudian akan berimajinasi sebagai tokoh protagonis yang berhasil memecahkan masalah dalam cerita tersebut. Seorang anak senantiasa membayangkan dirinya sebagai jagoan atau Hero dalam sebuah cerita. Di sinilah kesempatan orangtua untuk dapat menyemangati dan memotivasi anak mereka melalui sebuah dongeng.

Mengajarkan Berkomunikasi

Mengajarkan anak berbicara sudah bisa dimulai sejak awal kehamilan, karena orangtua yang mengajak anaknya berbicara akan direspons oleh otak anak dan berusaha untuk menyerap suara serta bahasa yang digunakan ibunya.
Membacakan dongeng atau cerita bagi anak yang belum dapat berbicara juga dapat menjadi media pembelajaran bagi si anak untuk berbicara. Dengan menceritakan dongeng maka akan merangsang kemampuan berkomunikasi verbal anak. Jika kebiasaan mendongengkan anak ini berlanjut, maka akan mendorong anak untuk berbicara dan mengembangkan kemampuan bahasanya. Cara ini merupakan salah satu teknik belajar yang menyenangkan bagi anak.

Membantu menenangkan anak yang menangis

Membacakan dongeng adalah salah satu cara penghilang stres yang efektif. Biasanya orangtua akan membacakan cerita dalam suasana santai dan nyaman, dramatisasi dengan membuat intonasi nada yang berbeda akan membuat anak tertarik untuk mendengarkan cerita. Lama kelamaan anak-anak akan merasa nyaman sehingga tingkat stresnya berkurang.

Membantu meningkatkan IQ anak

Pada anak yang baru belajar membaca, mendongengkan buku cerita yang sama berulang-ulang bisa membantunya mengajarkan bahasa, meningkatkan memori dan mengembangkan imajinasi. Saat pertama kali mendengarkan cerita, anak tidak bisa menangkap semuanya. Tapi jika diulang-ulang, maka anak akan memperhatikan pola dan urutan dari cerita tersebut.

Orangtua harus memperhatikan jenis buku cerita yang akan didongengkan pada anak, misalnya tidak boleh membacakan cerita yang terlalu merangsang atau menakutkan bagi anak. Serta lakukan dengan cara yang positif dan menyenangkan agar bisa bermanfaat bagi anak.

Membantu anak agar cinta dengan buku

Membacakan sebuah cerita sebelum anak tidur akan membuat anak mencintai buku dan menjadi senang membaca. Jika anak sudah cinta dengan buku, maka anak akan melihat buku sebagai teman yang menyenangkan seperti halnya mainan. Buku merupakan salah satu media aktif yang dapat menjaga kerja otak anak dan membantu anak menjadi lebih kreatif.

Membantu mengembangkan keterampilan mendengarkan anak

Jika anak ingin memahami isi dari buku yang didongengkan, maka anak harus mendengarkan ceritanya. Karena itu anak akan menyiapkan pikirannya untuk menyerap kata-kata yang diucapkan orangtua dan menciptakan kata sendiri untuk memahaminya. Jadi anak akan mendengarkan dengan seksama dan berusaha menguasai keterampilan ini. Selain itu, cara ini juga membantu meningkatkan komunikasi yang baik antara orangtua dan anak.

Itulah beberapa manfaat atau keuntungan yang dapat diperoleh dari membacakan dongeng atau cerita bagi anak. Jadi, dongeng bukanlah seringan yang banyak dipikirkan kebanyakan orang, hanya sebatas cerita yang tidak akan memberikan manfaat apa-apa. Dan ternyata, keuntungan-keuntungan yang telah disebutkan di atas adalah keuntungan yang sangat berharga sekali bagi orangtua dan bagi sang anak tentunya. Untuk itu, tidak ada salahnya untuk mulai membacakan dongeng atau cerita bagi anak.

Bahkan sekarang ini orang tua bisa kreatif mendongeng dengan menggunakan alat peraga berupa boneka jari yang disesuaikan dengan tokoh yang ada dalam cerita. Hal ini bisa jadi semakin menambah rasa senang si anak dengan kegiatan mendongeng, siapa tahu si anak pun bisa belajar sendiri untuk mendongeng, apalagi ada boneka di jarinya yang bisa dimainkan untuk mendongeng.

Untuk menarik perhatian si anak, orang tua pun bisa mengikutsertakan background cerita sehingga kegiatan mendongeng menjadi semakin seru.

Selamat Mendongeng Bunda...

Sumber : www.ibudanbalita.com






Rabu, 20 Januari 2010

Sifat Anak dan Cara Mengarahkannya


Setiap anak memiliki dasar bibit sifat atau watak yang berbeda-beda. Jika tidak diarahkan secara tepat, bisa saja bibit mendasar itu berubah menjadi sifat negatif, seperti pemalas, cuek, dan egois.

Mengenali lebih dini bibit sifat itu memudahkan orang tua dan pendidik dalam mengarahkan anak untuk mengembangkan diri ke arah yang lebih positif.



Beberapa sifat negatif yang perlu "diluruskan" sejak dini.

Anak Egois

Hal utama yang terlihat dari seorang anak egois adalah sikap keras kepala. Biasanya, orang cepat kehilangan kesabaran saat menghadapi anak seperti ini.

Anak cenderung ingin menang sendiri, tidak mau mendengarkan orang lain dan harus dituruti keinginannya. Bila tidak, biasanya anak akan mengeluarkan berbagai macam ancaman-ancaman, seperti : mogok makan, menangis berteriak-teriak, berguling-guling, dan ada yang menyakiti dirinya sendiri, misalnya membenturkan badan atau kepala.

Jika menemukan anak seperti ini, bagaimana cara menanganinya ?

Jangan panik saat anak berulah. Hadapilah anak secara sabar. Hal yang penting yang ingin didapatkan oleh anak seperti ini adalah perhatian. Jadi, saat ia berubah pastikan saja ia mengerti bahwa anak sedang memerhatikannya.

Anak Perajuk

mempunyai watak yang cepat ngambek. Hampir mirip seperti anak egois. Hanya saja, anak perajuk tidak menunjukkan sikap yang keras. Padahal , ini disebabkan karena anak merasa tidak mendapat perhatian yang cukup dari orang tua.

Anak Pemalas

Adalah anak yang enggan melakukan kewajibannya. Anak cenderung mengendalikan orang lain untuk memenuhi berbagai kebutuhannya. Jika anak-anak menunjukkan gelagat seperti ini, langkah yang baik untuk mengatasinya adalah memberikan contoh, sekaligus pengertian secara konsisten. Berikan padanya tanggung jawab sejak dini, paling tidak yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Misalnya, merapikan mainannya, atau meletakkan baju kotor ke tempat yang telah disediakan.

Anak Pendendam

Pada usia dini, anak yang bersifat pendendam cenderung terlihat membalas perlakuan seseorang padanya secara kasar demi memuaskan kekesalannya. Jika tidak ditangani secara tepat, sifat ini bisa terbawa hingga dewasa dan anak merasa hal yang dilakukan itu benar.

Anak Pemalu

Ciri anak pemalu dalah jarang memulai pembicaraan sebelum diajak berbicara, anak pemalu cenderung menutup diri, sehingga sulit ditebak keinginannya. Selain itu anak pernah terkesan kurang sosialisasi.
Sebagai pendidik, khususnya di usia dini harus dengan sabar melatih anak agar tidak takut mengemukakan pendapatnya. Ajaklah anak untuk berpartisipasi dalam setiap kegiatan di luar rumah sehingga terbuka peluang bagi anak.

Sumber : Pendidikan Anak Usia Dini 'Antara Teori dan Praktik' by Danar Santi

Rabu, 06 Januari 2010

Awasi Jajan Anak Anda

Kita sebagai Orang tua harus mewaspadai kebiasaan jajan pada anak dan berani bertindak tegas untuk melarang karena kebiasaan ini bisa berpengaruh pada kesehatan dan pola makan anak. Kebiasaan jajan pada anak banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya, terutama lingkungan sekolah.

Orang tua sebaiknya harus bertindak tegas terhadap kebiasaan kurang baik itu. Bertindak tegas bukan berarti harus dengan cara kekerasan membentak atau lainnya, tetapi dibatasi untuk jajan. Untuk itu, dituntut peran orang tua yang lebih dominan untuk mengawasi apa yang menjadi kegemaran jajan anak, dan bisa memberikan pemahaman tentang bahaya membeli jajan. Bisa saja orang tua memberikan bekal kepada anak seperti apa yang sering ia beli dari jajanan sekitar agar lebih terjamin gizi dan kebersihannya.

Perilaku anak, terutama pada usia tiga hingga empat tahun dapat mempengaruhi pembentukan karakternya ke depan, seperti kebiasaan melawan orang tua untuk tetap membeli jajan. Sebaiknya pada usia itu, jangan sampai kita sebagai orang tua yang justru mulai mengenalkan kepada jajan kepada anak.

Kebiasaan anak dalam melakukan sesuatu hal, lebih banyak disebabkan oleh faktor pendidikan dalam keluarga. Jika dalam keluarga mendapatkan pendidikan dan arahan yang baik, maka jalan pikiran dan kebiasaan anak akan mengikuti hal tersebut. Tentunya kita harus ingat bahwa tidak ada gunanya melarang anak jajan kalau orang tuanya juga sering jajan.


Rabu, 30 Desember 2009

Mengenali Watak Anak


Beberapa Perbedaan Watak Pada Anak

Setiap anak adalah unik. Salah satunya adalah jika dilihat dari wataknya. Terdapat beberapa watak pada anak yang berbeda antara anak yang satu dengan lainnya. Watak tersebut di antaranya (John Gray, Ph.D., 2004);

1. Anak sensitif, anak ini mempunyai perasaan lebih kuat, lebih mendalam, dan lebih serius.

2. Anak aktif, biasanya anak yang memiliki watak aktif akan memiliki kemauan kuat, berani mengambil resiko, dan ingin menjadi pusat perhatian.

3. Anak responsif cerah, ceria, dan membutuhkan lebih banyak stimulasi; ia berpindah-pindah dari hal yang satu ke hal yang lainnya.

4. Anak reseptif sopan dan bersikap kooperatif, mengikuti instruksi dengan baik tetapi menentang perubahan.

Apabila orangtua mengetahui watak setiap anak, maka suatu pertengkaran atau kesalahfahaman dalam melakukan aktivitas sehari-hari dapat diperkecil kemungkinannya terjadi. Biasanya, orangua yang memahami setiap watak anak akan mampu memenuhi kebutuhan anak, dengan demikian anakpun akan berusaha untuk memenuhi 'kebutuhan' orangtuanya. Misalnya, jika orangtua mengetahui bahwa anaknya suka diperhatikan dan mereka melakukannya, maka pada situasi lain ketika orangtuanya membutuhkan/menginginkan anak untuk dapat bersikap sopan dan manis di depan tamu yang sedang berkunjung ke rumah, maka iapun akan mudah melakukannya (ia akan memenuhi kebutuhan orangtuanya tersebut).

Pada dasarnya, setiap anak ingin selalu dapat menyenangkan orangtuanya yang selalu memberikan perhatian dan pengertian kepadanya. Apabila orangtua mengerti pada apa yang dibutuhkan anak, maka anakpun akan melakukan hal yang sama, patuh kepada orangtuanya (anak memiliki kemampuan meniru yang baik).

Sumber : perkembangananak.com