Tampilkan postingan dengan label BERBAGI CERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERBAGI CERITA. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Maret 2012

Tikus dan Kambing


Pak guru sedang mengajarkan suara berbagai hewan dan istilah katanya. "Anak-anak, hewan itu mengeluarkan suara yang khas, istilah katanya pun berbeda-beda. Contohnya jangkrik yang bersuara disebut menderik, bunyinya krik...krik...krik. Kalau ular yang bersuara disebut mendesis, suaranya sst...sst...sst. Sedangkan kalau kucing yang bersuara disebut mengeong, bunyinya meong...meong...meong." kata pak guru menjelaskan.
"Nah kalau suara tikus dan kambing bagaimana? "tanya pak guru kemudian.

Salah seorang muridnya ada yang mengangkat tangannya, "Saya bisa pak guru! Tikus yang bersuara disebut mengusik, suaranya asyik...asyik...asyik dan kalau kambing yang bersuara disebut melolong, suaranya tolong...tolong...tolong.

"Loh jawabanmu, kok, aneh?" tanya pa guru heran.

"Soalnya tikusnya tikus kantor, dan kambingnya kambing hitam pak!" jawab muridnya.

Jumat, 22 Januari 2010

Enaknya Jadi Guru


Ketika sedang ada diskon 30% all item di Gramedia TP, sayapun tak mau ketinggalan untuk ikut meramaikan event tersebut. Mumpung ada buku desain graphic Corel Draw dan Photoshop yang saya inginkan sejak lama, berhubung harganya yang terlalu mahal sehingga untuk membelinya harus pikir-pikir dulu dan akhirnya ada juga kesempatan untuk memilikinya. Lumayan dalam kesempatan tersebut saya mendapatkan dua buah buku.

Setelah berhasil mendapatkannya, sambil ikut berdesak-desakan, satu persatu saya memperhatikan rak-rak pajangan yang berjejer. Tak sengaja pandangan saya tertumbuk pada sebuah buku yang terpajang di rak bagian Pendidikan. Melihat judulnya saja membuat minat saya tergugah untuk membacanya. Buku yang menarik perhatian saya tersebut berjudul "Inspiring Education" yang berisi Kumpulan Kisah Nyata Pembelajaran Anak SD serta Teori dan Tips Solusi untuk guru dan orang tua (Wah sepertinya menarik sekali). Karena tidak ingin seperti membeli kucing dalam karung saya mencoba untuk membuka segel buku tersebut karena saya takut kecewa isi di dalamnya kurang bagus. Namun selintas pintas membaca isi yang terkandung di dalamnya semakin membuat hati ingin terus membacanya. Muncullah bisikan dalam hati untuk membelinya meskipun waktu berangkat saya niatkan hanya membeli buku yang menjadi incaran saya.

Karena dorongan hati inilah sayapun lantas mengeluarkan anggaran tambahan untuk membeli satu buku lagi. Plong rasanya hati ini setelah mendapatkan buku tersebut. Meskipun saya agak-agak takut untuk mengintip kocek yang ada di dalam dompet dan berapa yang tersisa dari kocek tersebut.

Sesampainya di rumah buku tersebut langsung saya lahap, dan dua buku desain graphic yang ingin saya pelajari langsung tersingkir (ditunda dulu membacanya). Dari berbagai kisah yang dihadirkan di dalam buku tersebut, kisah-kisahnya memang mampu memberikan inspirasi bagi kita sebagai orang tua maupun pendidik, terutama dengan adanya gambaran dari pengalaman penulis ketika memperhatikan dunia pendidikan disekitarnya agar kita pun turut serta memikirkan kemajuan pendidikan di tanah air kita.

Agar pengunjung setia Gallery Pendidikan tidak penasaran, dan terutama sebagai bahan perenungan para pendidik, berikut ini akan saya hadirkan cuplikan dari kisah yang terdapat dalam buku tersebut dengan judul "Enaknya Jadi Guru"

Enaknya Jadi Guru

Seorang ayah sangat khawatir dengan anaknya yang tidak pernah mengutarakan cita-citanya. Saat ini, anaknya yang bernama Badi itu kelas 5 SD. Sudah berkali-kali sang ayah bertanya.

"Badi, kalau besar, kamu mau jadi apa?"

Badi hanya menggelengkan kepala. Namun, pernah juga dia merespon sesekali, "Nggak tahu, deh." Atau dengan kalimat yang semakna, "Terserah saja" dan sebagainya.

Ayah Badi sangat khawatir jika ada kelainan pada diri anaknya. Berdasarkan pengalaman beliau dengan para kakak Badi, pada usia itu mereka sudah pernah menyebut, paling tidak satu cita-cita. Contohnya Badu, yang sejak TK ingin jadi astronot. Atau Budi, waktu kelas 3 SD bercita-cita menjadi dokter, dan Sri yang saat kelas 2 SD bersemangat ingin menjadi penjahit ternama.

Sang ayah sebenarnya tak pernah memaksa anak-anaknya untuk memilih pofesi tertentu. "Yang penting baik dan halal," kata beliau menjelaskan. tapi sikap Badi memang unik, sekaligus membuat ayahnya bingung.

Jadi bagaimana Bu Psikolog, cara saya bertanya pada anak saya tentang cita-citanya? Apakah memang anak saya tipe yang tidak suka ditanya? Atau mungkin dia bosan dengan pertanyaan saya?"

Psikolog pun menyarankan sang ayah untuk mencari strategi lain yang menghindarkan kesan bagi Badi bahwa dia merasa dites dan digurui.

"Bagaimana jika sesekali dalam situasi santai, Bapak dan Ibu bercerita tentang pengalaman keluarga meraih cita-cita? Kita tidak usah bertanya pada anak-anak, mereka mau jadi apa jika besar nanti. Jadi untuk tahap ini, sekadar sharing. Semoga ini bisa menjadi pancingan awal. Dalam kesempatan lain, baru kita bisa mulai bertanya pendapat anak-anak tentang cita-cita tertentu."

Orangtua Badi mengangguk setuju. Dari wajahnya sang ibu mau mencoba cara ini. "Perlahan tapi pasti ya Bu?" katanya seolah mengingatkan diri sendiri.

Beberapa minggu kemudian, orang tua Badi kembali berkunjung ke biro psikologi. Masih tampak rasa kekhawatiran pada wajah mereka. Bahkan kali ini, ada gurat kekecewaan yang cukup mendalam.

"Bu Psikolog, kami mau curhat lagi,"ayah Badi memulai pembicaraan. "Beberapa hari lalu, anak kami Badi spontan mengemukakan cita-citanya. kami ikuti saran Ibu untuk bercerita santai dulu beberapa kali. Ibu benar, tanpa ditanya, akhirnya Badi mau terlibat dalam pembicaraan bersama akak-kakaknya. Dia bilang ingin menjadi guru.

Psikolog mengucapkan pujian. "Cita-cita sebagai guru itu kan mulia. Tapi kenapa Bapak dan Ibu tampak kecewa?" tanyanya penasaran.

"Awalnya kami juga sangat gembira Bu, bahkan suami saya sempat terharu hingga menitikkan air mata," kata Ibu Badi.

"Sayangnya tak lama kemudian, Badi memberi tahu kami alasannya mau jadi guru. Dia bilang "Ayah, aku kalau sudah besar mau jadi guru aja"

"Wah, ayah sangat bangga sama kamu Nak, begitu dong. Guru adalah pekerjaan yang mulia, "kata suami saya. Badi mengangguk setuju dan menambah komentarnya, "iya jadi guru enak. Nggak usah pintar juga nggak apa-apa."
"Suami saya kaget dengan penuturan anak kami. Beliau bertanya, "Kata siapa jadi guru tak usah pintar ? Justru guru itu harus pintar karena harus mengajarkan ilmu kepada murid-muridnya, Nak!"

"Tapi anak saya tidak mau kalah. 'Ah, guruku nggak pintar kok, Yah. Kalau rajin masuk memang iya. Tiap hari menyuruh temanku yang menjadi sekretaris kelas supaya menulis di papan tulis, dan yang lain mencatat. Setelah itu, mengerjakan tugas. Terus, kalau sudah selesai dapat tanda tangan deh dari guru. Enak banget jadi guru. Kerjanya santai, terus gajinya kan sekarang gede.' Nah, begitu Bu, kata anak saya dengan penuh kekaguman. Waktu itu, ayahnya sampai tak bisa berkata-kata. Beliau tak menyangka alasan Badi menjadi guru ternyata karena melihat sisi negatifnya. Saya pun khawatir apakah guru itu begitu 'spesial' sehingga menjadi 'inspirasi' bagi anka bungsu kami." Ibu Badi tampak prihatin.

"Saya tak tahu, Bu Psikolog. Apakah harus kecewa sama guru anak saya atau kecewa dengan anak saya. Saya tak menyangka, sekian lama saya tunggu apa sebenarnya cita-citanya, ternyata ingin menjadi guru yang tidak profesional, "kata ayah badi berapi-api. "Yang lebih menyedihkan lagi, ternyata sekian tahun anak saya bersekolah di sana, dia mendapatkan guru yang model mengajarnya kurang sesuai dengan harapan kita. Sayangnya sudah telanjur, Bu. Jadi apa yang bisa saya lakukan supaya pemahaman anak saya tentang guru tidak seperti itu ?"

Sesaat psikolog menatap kedua orangtua itu dengan keyakinan yang tidak utuh. "Ada banyak hal yang harus kita kondisikan, Pak. Perlu usaha keras bagi kita untuk meyakinkan Badi bahwa tidak semua guru memiliki kebiasaan menyuruh para siswanya banyak mencatat. Kita pun perlu me,beri contoh konkret bagi Badi sehingga bisa mengubah image-nya tentang seorang guru. Tantangannya adalah bukan hanya Badi yang perlu dijelaskan, tapi apa yang bisa kita lakukan agar para guru itu mendapatkan semacam pencerahan."

Sang psikolog terdiam. Sesat beliau mengingat kata-kata John Gardner yang mengatakan : We teach who we are. Jelas-jelas cara guru mengajarkan para siswanya secara monoton seeprti itu merupakan refleksi kemampuannya yang terbatas.

Sumber : Inspiring Education by Lara Fridani & APE Lestari, Penerbit Elex Media Komputindo

Selasa, 27 Oktober 2009

Baru Belajar Bahasa Inggris

Seorang anak yang baru belajar bahasa Inggris ditugaskan untuk menghapalkan 3 kata dalam bahasa Inggris. Dalam perjalanan pulang, ia melihat 2 orang turis yang sedang bertengkar. Salah seorang diantaranya mengatakan “shit!” Anak tadi berkesimpulan ‘shit’ adalah kosa kata bahasa Inggris. Dari dalam bus anak tadi melihat poster film bioskop 21 berjudul Spiderman. Ia pun menghapalnya. Berarti sudah 2 kata yang saya hapal, pikirnya. Saat ia ingin turun dari bus ia mendengar ada seorang pemuda yang berkata “lady first” kepada teman wanitanya. Anak itu pun berpikir lady first adalah kosa kata bahasa Inggris. Berarti sudah 3 kata yang dia hapal.
Keesokan harinya guru anak tadi, yaitu seorang wanita yang sudah agak tua bertanya, “Ok, what is your first word?”
“shit!” jawab si anak.
“What ?” guru tersebut langsung kaget becampur marah, “kurang ajar! Kamu tidak sopan sama guru! From who your are study?”
“Spiderman!” jawab anak tadi.
Dijawab seperti guru tersebut bertambah marah. Ia pun mengusir anak tersebut keluar, “Go out now!”
Anak tersebut menjawab, “Lady first.”

Rabu, 16 September 2009

Ekspedisi Ke Bulan


Empat orang yang berasal dari Jerman, Jepang, Singapura, dan Indonesia pergi ke Bulan dalam sebuah ekspedisi. Setibanya di bulan ternyata banyak terjadi gunung meletus dan gempa.
Orang Jepang berkata, “Untung aku sudah terbiasa dengan gempa dan letusan gunung di Negara asalku. Makanya kami mengembangkan teknologi tinggi untuk bangunan. Kami sudah menyiapkannya agar bisa tinggal di bulan”.
Keesokan harinya saat akan pergi menjelajahi permukaan bulan ternyata kontur bulan sangat tidak rata, banyak lubang, jurang, bukit, dan pegunungan. Ditambah lagi dengan cuaca yang buruk, perbedaan suhu yang ekstrim antara pagi dan siang.
Orang Jerman berkata, “Aku sudah terbiasa. Di negara kami bahkan ada empat musim. Konturnya pun mirip kontur di sini. Untuk itulah, kami mengembangkan teknologi transportasi yang tahan terhadap segala macam cuaca dan medan. Kami sudah menyiapkannya untuk dapat menaklukkan bulan.”
Pada saat berjalan menyusuri permukaan bulan, mereka bertemu dengan sekelompok penduduk asli bulan.
Orang Singapura berkata, “Biar aku saja yang bernegoisasi. Di Negara asalku tanahnya sempit dan tidak subur karena itulah kami mengembangkan sector perdagangan. Aku akan mencoba membuka jalur bisnis dengan penduduk asli bulan.”
Setelah bernegoisasi beberapa lama, orang Singpura tadi berkata,
“Ternyata yang menikmati hasil ekspedisi kita adalah orang Indonesia?”
“Mengapa?” tanya ketiga temannya.
“Karena penduduk asli bulan membutuhkan banyak tenaga kerja yang dapat meringankan pekerjaan rumah tangga sehari-hari mereka, alias sebagai pembantu.”

Selasa, 08 September 2009

Belajar Tentang Habitat dengan Orang Gila

Tiga orang gila yang sudah dinyatakan sembuh sedang di tes oleh seorang ahli jiwa dengan menajukan sebuah pertanyaan yang sama.
Ahli penyakit jiwa : “Andaikata anda seorang diri berada di padang pasir yang panas dan tandus, makhluk hidup apa yang mungkin anda temukan dan apa yang akan dilakukan dengan makhluk hidup tersebut ?”
Orang Gila I : Pohon kaktus! Nanti batangnya saya buka lalu airnya saya minum.”
Ahli penyakit jiwa : “Bagus, kamu sudah bisa berpikir ilmiah. Kamu sudah sembuh. Kalau kamu ?
Orang Gila 2 : “Di padang pasir pasti ada pohon kurma. Nanti buahnya saya makan, lumayan kan kenyang!”
Ahli penyakit jiwa : “Pintar, kamu juga sudah sembuh!. Kalau kamu ?
Orang Gila 3 : “Saya pasti ketemu dengn dua makanan terlezat di padang pasir. Nanti kedua-duanya saya makan.”
Ahli penyakit jiwa : “O ya, makan apa itu ?”
Orang Gila 3 : “Dua orang gila yang tadi duluan!”
Ahli penyakit jiwa : “Dasar orang Gila!”

Akhirnya orang gila yang ke-3 ini masih harus menjalani perawatan.

Pembahasan :
Habitat adalah lingkungan tempat makhluk hidup tinggal. Habitat padang pasir terdiri dari pasir, bukit, batu-batuan, sedikit air, dan tanaman dengan sinar matahari yang menyengat dan suhu yang tinggi.
Di tempat seperti itu perbedaan suhu siang dan malam sangat ekstrim. Di sing hari sangat panas, sedangkan di malam hari sangat dingin. Oleh karena itu, banyak hewan yang mencari makan justru di malam hari, sperti ular gurun, tikus gurun, laaba-laba gurun, dll.

Guru IPA Berbahaya ?


Saya begitu gembira sekali ketika mendapatkan buku yang sangat berkualitas dan bisa menjadi referensi saya sebagai bahan mengajar. Meskipun saya berstatus sebagai pengajar komputer dan sempoa, tidak menghalangi saya untuk membagikan ilmu yang terkandung dalam buku tersebut sebagai tambahan wawasan bagi siswa.
Buku yang saya dapatkan itu lebih tepatnya berjudul “JUJIGORU” (Jurus Jitu Guru dan Ortu) Karya Doni Swadarma.

Ketika saya merasakan anak-anak didik saya mulai jenuh dengan beberapa materi baik itu materi komputer atau pelajaran sempoa yang terus berkutat dengan angka-angka, saya mulai beraksi untuk mengembalikan suasana agar lebih hidup dan anak-anak senang.
Kepada anak-anak, saya katakan bahwa saya mempunyai cerita yang bagus sekali dan cerita ini berkaitan dengan ilmu Sains.
Mendengar kata “cerita” saja, semangat anak-anak mulai bangkit dan langsung berkata, “iya bu…iya” dengan sorak sorai mereka yang antusias menanti cerita dari saya.

Saya terdiam sejenak agar suasana kelas kembali kondusif. Melihat saya hanya diam saja mengamati mereka, anak-anak secara otomotis ikut terdiam. Suasana kelas menjadi hening. Setelah menghela nafas, sayapun mulai angkat suara.
“Anak-anak, cerita yang akan ibu sampaikan ini berkaitan dengan pelajaran Sains. Dan ini akan menjadi tambahan ilmu bagi kalian tentang betapa pentingnya ilmu Sains.
Dan kita akan menyaksikan bahwa di dunia makhlus halus sedang terjadi kegemparan karena adanya ilmu sains”.

Mendengar kata “makhluk halus” anak-anak sontak berkata “hii…takut bu..” dan anak-anak mulai merasakan suasana mencekam. Salah satu murid saya yang memang sangat takut dengan cerita-cerita seram tidak mau di beri cerita yang berhubungan dengan setan. Tapi bagi murid-murid saya yang memang suka dengan cerita yang seram-seram, menanti cerita saya dengan tidak sabar dan menyuruh saya untuk melanjutkan cerita.
Saya katakan kepada murid saya yang takut tersebut bahwa cerita yang akan saya sampaikan tidak melulu menyeramkan tetapi sangat lucu sekali. Dan mereka pun setuju agar saya melanjutkan ceritanya.
“Begini anak-anak ceritanya,”kata saya memulai bercerita

Dalam Suatu rapat para setan seantero jagat, raja setan bertanya kepada seluruh anak buahnya,
“Siapakah manusia palingberbahaya di dunia yang bisa menggoyahkan kekuasaan kita?”
Suasana hening sesaat, tidak ada satu setan pun yang menjawab.
Tiba-tiba sesosok tuyul mengangkat tangannya,
“Maaf raja setan saya pernah menyamar jadi anak sekolah lalu mengikuti pelajaran mereka di kelas. Menurut saya manusia yang paling berbahaya itu adalah guru IPA, karena guru IPA itu mengajari manusia tenyang arah, tulang belulang, teknik pengawetan, penampakan buatan, dan perubahan wujud. Bukankah itu ilmu yang telah kita kuasai secara turun temurun ?”

Kemudian saya berikan penjelasan kepada mereka bahwa setan selalu menggoda manusia. Ia memiliki dendam sejarah yang panjang untuk selalu membenci manusia. Umtuk itulah setan senang mencari kelemahan manusia agar dapat tergelincir dan mengikuti hawa nafsunya. Salah satu kunci untuk melawan bujuk rayu setan adalah dengan menggunakan ilmu. Dengan memiliki ilmu manusia menjadi paham, dan dengan paham manusia dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.